1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>
Keterbukaan Adalah Jiwa Keadilan

Keterbukaan Adalah Jiwa Keadilan

Artikel Berita >> Berita

Keterbukaan membuat hakim diadili ketika ia mengadili. "Tidak akan ada keadilan tanpa keterbukaan”

  “keterbukaan adalah jiwa keadilan; taji tertajam dan penjaga terkuat dalam…

More...
Hakim Bagaikan Ikan di Aquarium

Hakim Bagaikan Ikan di Aquarium

Artikel Berita >> Berita

Saya mengingatkan kepada para hakim untuk menjaga keharuman almamater

  "Kehadiran teknologi informasi yang mampu membuat jarak dan dunia semakin…

More...
Enam Fakta Tentang Peradilan Agama

Enam Fakta Tentang Peradilan Agama

Artikel Berita >> Berita

Hakim honorer, Hakim wanita, Kitab kuning, Pengacara syariah, 200 Kuesioner dan Larangan kasasi

Hakim honorer, Hakim wanita, Kitab kuning, Pengacara syariah, 200 Kuesioner dan Larangan kasasi  

More...
MA Minta Kenaikan Gaji Dibarengi Perbaikan Kinerja

MA Minta Kenaikan Gaji Dibarengi Perbaikan Kinerja

Artikel Berita >> Berita

MA berharap kenaikan gaji itu dibarengi dengan perbaikan kinerja dan citra hakim.

  Suap yang terjadi selama ini tidak semata karena persoalan ekonomi. Namun, lebih karena persoalan integritas hakim yang…

More...
Pemimpin Yang "JAIM"

Pemimpin Yang "JAIM"

Artikel Berita >> Berita

Sang Bos tidak begitu menguasai tentang masalah teknis, apalagi yang nonteknis, seperti administrasi keuangan, aset dan TI,”.

  Menjaga integritas, meningkatkan kualitas SDM, memanfaatkan TI dan melaksanakan pelayanan publik, seorang pemimpin harus terjun langsung memberikan arahan-arahan dan…

More...
Frontpage Slideshow | Copyright © 2006-2011 JoomlaWorks, a business unit of Nuevvo Webware Ltd.

Fokus Headlines

  • Es Krim, Baso dan Teknologi Informasi -

     Es Krim, Baso dan Teknologi Informasi

    *

    Akhir musim gugur 1988. Saya masih ingat ketika itu. Baru saja saya mengikuti kelas “Islamic Intellectual History” yang diberikan oleh Prof Mustansir Mir pada jam pertama. Lalu menunggu jam kedua, pelajaran “Medieval Neareastern Literature” dari Prof Bellamy.  Saya duduk di dekat jendela di lantai dua, di salah satu ruang kuliyah University of Michigan, Amerika Serikat. Saat itu adalah semester pertama saya mengikuti kuliyah di universitas yang cukup ternama, yang berlokasi di kota kecil Ann Arbor, negara bagian Michigan, 45 mil sebelah barat kota industri Detroit.

    Saya sedang menikmati kesendirian, sebab memang di bulan-bulan awal sekolah di sana, saya banyak menyendiri dan kesepian. Maklum, saat itu, isteri yang sangat saya cintai, terpaksa dikembalikan dulu ke rumah orang tuanya, di Tasikmalaya, bersama keempat anak kami yang masih kecil-kecil. Tidak mungkin sekolah ke negeri orang  membawa mereka semua, atau sebagian.

    Menerawang ke luar jendela, saya melihat suasana redup dan sayu. Matahari sudah sekian lama jarang menampakkan dirinya. Kalaupun ia muncul, panasnya tidak begitu terasa sebab posisinya sedang menjauh menuju ke arah selatan. Sehingga suhu udara selalu dingin. Apalagi kalau angin bertiup, rasa dingin merasuk ke sekujur tubuh, menjadikan orang-orang yang bepergian ke luar rumah harus selalu berpakaian tebal, walaupun musim dingin belum datang dan salju belum turun.

    Di sekitar, terlihat pepohonan hanya tinggal ranting-ranting yang nampak artistik, sedap dipandang mata.  Hampir semua pepohonan daunnya gugur akibat musim panas yang panjang selama  tiga bulan. Dahan dan rantingnya yang tanpa daun nampak  indah dan mengagumkan. Semakin ke ujung, dahan dan ranting itu semakin kecil, dengan pola yang macam-macam sesuai jenis tumbuhannya, namun tetap indah. “Subhanalloh”, saya berguman. Pemandangan indah yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Pemandangan seperti itu takkan pernah kita lihat di tanah air, sebab pergantian musimnya lain.

    Di jalan dalam kampus, nampak para mahasiswa -dan juga dosen- berpakaian tebal hilir mudik berjalan bergegas. Pada umumnya mereka sedang menuju kelas masing-masing setelah selesai mengikuti suatu kuliyah, kemudian berpindah gedung, mengejar pelajaran lainnya.

    Tiba-tiba, tidak sengaja, pandangan saya tertuju ke suatu pojokan jalan yang sedikit jauh dari tempat saya menerawang. Di salah satu kios deretan pertokoan kampus, tampak ada beberapa orang antri. Pada umumnya mahasiswa. Mereka, dengan berbaju tebal dan menggendong tas buku, sabar antri di sepanjang trotoar depan kios itu. Jumlah antrian kadang lima, enam, bahkan sampai sekitar sepuluh orang. Mereka datang silih berganti. “Sedang antri apa mereka di udara sedingin ini?”, pikir saya.

    Setelah memperhatikan sedikit lama, dan harus mengerutkan kening sebab jaraknya agak jauh, saya baru tahu.  Masyaalloh, kiranya mereka  sedang antri es krim. Setelah mendapatkannya, mereka langsung pergi sambil menikmati hasil antriannya.

    Tidak habis pikir ketika itu. Di udara yang sangat dingin, mengapa mereka rela antri cukup lama untuk mendapatkan secangkir kertas es krim, lalu langsung menyantapnya. Bukankah es krim itu makanan yang juga dingin? atau mungkin es krimnya tidak dingin?, atau barangkali es krim itu hangat? atau es krim itu mengandung obat? Mengapa mereka tidak tambah kedinginan? malah nampak ketagihan?

    **

    Hari-hari berikutnya saya selalu memperhatikan  antrian peminat es krim itu, terutama pada jam-jam istirahat kelas. Sementara, pertanyaan-pertanyaan yang ada pada benak saya masih belum menemui jawabannya. Saya belum sempat bertanya kepada siapun. Sampai akhirnya datang kesempatan, saya bertanya kepada seorang kenalan baru, ketika itu, seorang ibu  setengah baya, yang  pernah berkunjung dua tiga kali ke Indonesia.

    Jawabannya sangat singkat, tapi juga penuh makna. “It’s a culture, Wahyu”, kata Si Ibu itu. Ia menambahkan sambil senyum bahwa di Jakartapun, udaranya panas, namun banyak orang suka makan dan ketagihan baso.

    Iya juga, pikir saya. Apalagi baso yang enak itu adalah baso yang kuahnya pedas, dimakan masih dalam keadaan panas.  Makan baso juga tidak dibatasi waktu. Bagi pecintanya, makan baso di waktu pagi, siang, malam, sama saja.  Walaupun cuaca panas, ruangan penjual baso juga sumpek dan panas, tapi tetap banyak orang yang  setia dan menikmati baso favoritnya itu, walaupun setelahnya, sekujur badan basah kuyup oleh keringat. Mereka tetap merasa nikmat dan puas. Dan lalu, lain hari datang lagi.

    ***

    Dalam suasana pembudayaan Teknologi Informasi di lingkungan Peradilan Agama yang belakangan ini sedang kita lakukan, saya jadi ingat kembali kata-kata jawaban si Ibu kenalan saya di Amerika itu, “It’s a culture, Wahyu”. Lalu, apa sih sebenarnya yang dikatakan sebagai “a culture”, yang biasa kita terjemahkan sebagai “budaya” itu.

    Paul Procter dalam kamusnya, “Longman Dictionary of Contemporary English”, menulis bahwa salah satu arti “culture”  adalah “customs of a society”, kebiasaan suatu masyarakat. Memang benar juga. Makan es krim walau di musim dingin bagi orang Amerika, atau makan baso panas dan pedas walau di terik matahari bagi anak-anak muda Indonesia, itu kan kebiasaan masyarakat, yang sudah sejak entah kapan dilakukannya. Pantaslah kalau si Ibu itu menyebutnya “a culture”.

    Tapi pasti, kebiasaan masyarakat itu tidak timbul dengan sendirinya. Memerlukan proses. Sesuatu akan menjadi kebiasaan, apabila apa yang dilakukannya dirasa enak, nikmat, mudah, murah, aman, nyaman dan seterusnya. Pendek kata menyenangkan dan masyarakatnya menerima, tidak melarangnya.

    Bisa saja terjadi, jika diukur oleh suatu nilai atau norma,  pekerjaan itu tidak atau kurang baik, tapi karena masyarakat menerimanya, akhirnya menjadi kebiasaan juga. Banyak contoh tentang ini.

    Memang, yang bagus itu adalah hal yang baik, lalu dilakukan bersama-sama secara masif,  spontanitas atau dengan perencanaan, yang menimbulkan manfaat besar bagi dirinya dan masyarakatnya, akhirnya menjadi suatu kebutuhan, bahkan ketagihan.

    Itulah yang ingin kita perjuangkan bersama dalam pembudayaan pemanfaatan Teknologi Informasi. Manfaat dari penggunaan Teknologi Informasi sudah jelas, tidak ada yang membantahnya. Yang perlu kita perjuangkan adalah bagaimana agar pemanfaatan Teknologi Informasi itu dirasa mudah, murah, aman, nyaman, enak, nikmat dan membuat manfaat besar bagi dirinya dan masyarakatnya. Pendek kata, yang kita perjuangkan adalah bagaimana agar pemanfaatan Teknologi Informasi itu menjadi suatu budaya.

    Sebagai orang peradilan, kita rasanya perlu memperhatikan serius terhadap apa yang ditulis Dr. Dory Reiling, Hakim Pengadilan di Amsterdam yang ahli Teknologi Informasi itu,  yang saya seringkali menyampaikannya dimana-mana. Kadang-kadang saya merasa malu, karena yang saya omongkan dalam banyak kesempatan, itu melulu. Tapi tidak apa-apa. Saya coba buang jauh-jauh rasa malu itu, sebab apa yang ditulis oleh Dr Dory pada disertasinya, “Technology for Justice”, 100% saya setuju. Dan kawan-kawanpun sepertinya tidak ada yang membantahnya. Disertasi yang telah dibukukan itu sangat memotivasi insan peradilan untuk membudayakan pemanfaatan Teknologi Informasi di lingkungan peradilan.

    Mari kita perhatikan apa yang ia tulis: Over the centuries and all over the world, three major complaints have been heard that can still be heard today: (1) Court processes take too long, (2) Courts are difficult to access, (3) Judges (courts) are corrupt.  … each of them can be resolved with information technology”. (hal. 17).  Katanya lagi, “Information Technology is the most striking  factor in changing the world in our era.”(hal. 16)

    Jadi kalau kita, orang-orang peradilan, terhadap pemanfaatan TI,  sudah seperti orang Amerika dalam hal menyukai es krim, atau sudah seperti anak-anak muda kita dalam menikmati baso, atau sudah seperti apa kata si Ibu Amerika yang menyebutnya “it’s a culture”, ditambah dengan integritas tinggi, saya yakin keluhan masyarakat dunia terhadap peradilan, sebagaimana dikatakan Dr Dory, akan sirna dengan sendirinya.

    Jika hal itu terjadi, maka masyarakat akan merasa mudah, murah, aman, nyaman, enak dan nikmat jika berhubungan dengan peradilan. Dan ini berarti, visi Mahkamah Agung  sudah berada dekat di depan mata kita.

    Tapi, kapan itu? Jawabannya ada pada diri kita, dan tergantung pada kita masing-masing, sebagai insan peradilan. (WW).

  • Peraturan Sek MA.RI Tentang Sasaran Kinerja Individu -

    PERATURAN SEKRETARIS MA.RI TENTANG SASARAN KINERJA INDIVIDU

Peringatan 25 Tahun UU Peradilan Agama

Ditulis oleh Charli 21 Mei 2014

Peringati 25 Tahun UU Peradilan Agama, Badilag Gelar Berbagai Lomba

Jakarta l Badilag.net

Ditjen Badilag kembali punya hajatan besar. Tahun ini, Badilag berencana menyelenggarakan peringatan 25 tahun Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Acara peringatan itu akan diisi dengan berbagai kegiatan. Di antaranya adalah berbagai lomba yang selaras dengan program-program prioritas pembaruan peradilan agama.

ISO 9001:2008

Ditulis oleh Charli 27 Maret 2014

 Dirjen Badilag: Ayo, Siapa Berani Terapkan
ISO 9001:2008?

 Jakarta l Badilag.net

Dirjen Badilag Dr. H. Purwosusilo, S.H., M.H. menantang para pejabat di lingkungan peradilan agama, termasuk para pejabat eselon II di Badilag, untuk menerapkan pelayanan dengan standar ISO 9001:2008 di satuan kerja yang dipimpinnya.

“Ini saya lelang. Siapa yang berani?” kata Dirjen Badilag, saat memimpin rapat mengenai program prioritas Badilag tahun 2014 di Badilag, Jumat (21/3/2014).

Ia berharap agar ada satu unit kerja eselon II di Badilag mulai menerapkan ISO. “Akan sangat bagus kalau lelang ini diambil oleh Sekretariat Ditjen Badilag. Mungkin berkaitan dengan kenaikan pangkat pegawai, keuangan, umum, dan lain-lain,” ungkapnya.

 

KY Seleksi Calon Hakim Agung

Ditulis oleh Charli 19 Pebruari 2014

 KY Menyeleksi Dua Calon Hakim Agung untuk Kamar Agama

Jakarta l Badilag.net

Setelah sekian lama tidak ada seleksi hakim agung untuk Kamar Agama Mahkamah Agung, kini Komisi Yudisial membuka pendaftaran untuk memilih calon hakim agung yang akan ditempatkan di Kamar Agama MA.

Melalui siaran persnya, KY mengumumkan bahwa KY akan menyeleksi 10 calon hakim agung. Mereka terdiri dari dua orang untuk Kamar Agama, dua orang untuk Kamar Perdata, dua orang untuk Kamar Pidana dan tiga orang untuk Kamar Tata Usaha Negara.

 

Pengadilan Telah Berpihak Pada Perempuan

Ditulis oleh Charli 03 Oktober 2013

 PENGADILAN TELAH BERPIHAK PADA PEREMPUAN

HUMAS-JAKARTA, Isu pengarusutamaan gender memang selalu menarik untuk didiskusikan. Gender, tak semata-mata selalu berpihak pada perempuan. Gender dapat dipahami adanya tercapainya kesempatan dan manfaat yang sama antara proporsi laki-laki dan perempuan.

Menurut survey nasional tahun 2012 yang dilakukan oleh kementerian negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tentang instansi mana saja yang telah menerapkan regulasi mengenai perempuan, MA menduduki peringkat 5 besar. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Urusan Administrasi MA, Dr. Drs. Aco Nur, MH dalam pembukaan Pendalaman dan Peningkatan Peran Pegawai di MA dalam Pengarusutamaan Gender dan Anak 2013 di Jakarta pada Rabu,2 Oktober 2013 malam.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Vivamus id massa. Ut a sapien in purus tempor lacinia.

Loading feeds...

Created by SopanTech Solutions

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
Joomla! Slideshow

Other Menu

Ketua PA Donggala

ketua1

Drs. H. A. AMIRUDDIN B, SH

Syndication

Who's Online

Ada 39 tamu online

Informasi 1

Justice For All

Interactive

pekka

pojok

Terjemah Bahasa

Cari Nomor Perkara

Nomor Perkara :

Video Peradilan

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda tentang Pelayanan pada Kantor kami

 

 

 

 


  Hasil

Tautan Eksternal

Tautan Aplikasi

 alt



alt


alt


sms_icon

Mahkamah Agung R.I.

 alt


alt


badilum


eeesyariah


dilmiltun


header


litbangkumdil


JDIH

 

Link Terkait

 IKON KHES


e-doc-new


justice


legislasi


hasil_rakernas


legalitas org

Informasi

OnClick Update SIADPA

 

Download Update Aplikasi
SIADPTA PLUS  & SIADPA PLUS
Untuk Aplikasi Online dapat melalui SIADPA Web Online

Jam Pelayanan

Senin - Kamis   : Pukul 08.00 - 16.30
Jum'at   : Pukul 08.00 - 17.00
Jadwal Sidang
Senin - kamis   : Pukul 09.00 - Selesai